Notification

×
Copyright © Terdepan Mengabarkan Tentang Indonesia

Kuliner

Iklan

Bawang Merah dari Sumbar dan Sulteng Masuk Aceh, Produksi Bawang Merah Pidie Habis

FEC Media
Senin, 17 Januari 2022, Januari 17, 2022 WIB

 

Bawang Merah Pidie Kuasai Pasar di Aceh, Mampu Saingi Bawang Impor dari China




Banten, Detakterkini.Com - Untuk mengisi dan menyikapi permintaan bawang merah yang terus melonjak dari akhir tahun 2021 lalu sampai awal tahun baru 2022 ini, sejumlah penyalur bawang merah di Pasar Induk Lambaro, Aceh Besar, mulai memasok produksi bawang merah dari luar Aceh, yaitu dari Sumatera Barat dan Sulawesi Tenggara.



“Bawang merah dari luar Aceh itu kita pasok, karena produksi bawang merah Pidie, sejak akhir Desember 2021 lalu sampai minggu ketiga Januari 2022 ini, pasokannya ke Pasar Induk Lambaro, produksinya sudah menurun drastis,” kata Bussairi kepada Serambinews.com, Minggu (16/1) di Pasar Induk Lambaro, Aceh Besar. Dikutip SERAMBINEWS.COM



Bussairi mengatakan, pada minggu ini, bawang merah yang kita pasok dari luar Aceh sebanyak 7 ton, dari Sumatera Barat 4 ton dan dari Sulawesi Tenggara 3 ton.



Jenis atau varitas bawang merah yang dipasok dari Sumatera Barat dan Sulawesi Tenggara itu, bentuknya hampir sama dengan bawang merah produksi petani di Pidie, sehingga masyarakat suka membelinya.



Harga tebus bawang merah dari Sumbar di tingkat penyalurnya sekitar Rp 250.000 – Rp 260.000/sak (10 Kg) dan harga ecerannya sekitar Rp 28.000 - Rp 30.000/Kg. Sedangkan harga tebus bawang merah dari Sulawesi Tenggara Rp 245.000/sak (10 Kg), harga ecerannya berkisar Rp 28.000 – Rp 30.000/Kg



Bawang merah peking, impor dari Cina, harga tebusnya sekitar Rp 125.000/sak (10 Kg), harga jual ecerannya Rp 18.000/Kg. Bawang putih Rp 230.000/sak (10 Kg, dan ecerannya Rp 25.000 – Rp 27.000/Kg dan Bawang Bombay Rp 350.000/sak (20 Kg).



Produsen dan penyalur bawang merah Pidie, Zakarya yang dikonfirmasi Serambinews.com, Minggu (16/1) mengatakan, sejak akhir Desember 2021 lalu, produksi bawang merah dari Pidie dan Pijay, sudah habis di pasarkan, kalaupun ada yang memproduksi, akan digunakan untuk bibit.



Petani di Pidie dan Pijay, baru menanam bawang merah pada musim gadu, atau musim panas, yaitu bulan Maret – Agustus.



Sejak bulan Desember 2021 – Januari 2022, petani tidak lagi tanam bawang merah, mereka mengalihkan kembali lahan sawahnya untuk tanam padi rendeng.



Namun begitu, kata Zakaria, selaku produsen dan pedagang bawang merah, pada akhir Januari 2022 ini, pihaknya akan tanam bawang merah kembali seluas 10 hektar, untuk persiapan panen bulan Maret dan Mei kebutuhan puasa dan lebran Idhul Fitri 1443 Hijjriah mendatang, di lahan yang lebih tinggi dari genangan air sawah.



Lahan tanaman bawang merah, tidak boleh ada genangan air. Tapi tanaman bawang merah butuh air yang cukup, lahannya harus selalu dalam kondisi lembab.



Setelah panen bulan Maret mendatang, kata Zakarya, baru pihaknya kembali menanam bawang merah bersama kelompok tani bawang merah di Kemala, dengan target sekitar 100 hektar, untuk pemenuhan kebutuhan lokal dan ekspor.



“Bawang merah yang masuk ke Pasar Induk Lambaro, sejak akhir Desember 2021 lalu sampai Januari 2022 ini, bawang dari luar Aceh, yaitu dari Sumbar, Jawa dan Sulawesi. Jenis varitas bawangnya, hampir sama dengan varitas bawang Pidie, baunya wangi, rasanya gurih dan enak,” ujar Zakarya.



Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Ir Cut Huzaimah MP melalui Kabid bHortikulturanya, Ir Chairil Anwar yang dimintai penjelasannya apakah pada tahun 2022 ini, Distanbun ada memprogramkan pengembangan tanaman bawang merah, mengatakan ada tapi mengenai jumlahnya arealnya belum direkap, karena usulan program pengembangan tanaman bawang merah, lebih banyak usulan pokir anggota DPRA.



Chairil Anwar mengatakan, anggota DPRA, mengusulkan pengembangan tanaman bawang merah, cabe merah, bawang putih dan lainnya, dengan maksud dan tujuan untuk memberdayakan petani padi dan hortikultura, setelah panen padi, lahan sawahnya dimanfaatkan untuk tanam bawang merah dan cabe merah, timun kapur, yang usia tanamnya hanya sekitar 60 hari, sudah bisa di panen



Usulan pokir anggota DPRA itu, kata Chairil Anwar, diusahakan pada akhir Februari dan awal Maret 2022 nanti, sudah mulai ditanam, supaya pada akhir April dan awal Mei, bisa dipanen untuk pemenuhan kebutuhan Meugang puasa dan lebran Idhul Fitri 1443 Hijjriah.



Setiap tahunnya, menjelang meugang puasa dan meugang Lebran Idhul Fitri, bila produksi bawang merah dan cabe merah lokal kurang panen, harga cabe merah, bawang merah, bawang putih, tomat, dan lainnya, akan melambung tinggi.



9Harga bawang merah dan cabe merah bisa mencapai Rp 60.000/Kg. Sudah dua tahun meugang pusa dan lebran, harga cabe merah relatif terkendali Rp 30.000 – Rp 4.000/Kg, begitu juga bawang merah.




“Saat ini harga cabe merah sedang anjlok Rp 15.000/Kg. Tapi bawang merah masih stabil Rp 28.000 – Rp 30.000/Kg. Harga cabe rawit sangat tinggi, capai Rp 60.000/Kg,” ujar Chairil.

Komentar

Tampilkan

  • Bawang Merah dari Sumbar dan Sulteng Masuk Aceh, Produksi Bawang Merah Pidie Habis
  • 0

FEC MEDIA NETWORK

Topik Populer

Iklan Dalam Feed